Sandara-ssi, dorawa!

Cast: Bigbang’s G-Dragon as Kwon Jiyoung, 2NE1′s Sandara as Park Sandara, Kiko Mizuhara as Kiko Mizuhara

Handphoneku berdering. Ku lirik nama yang tertera di layar, Sandara. Ah, untuk apa yeoja ini menelponku di saat seperti ini? “Kiko-san, gomennasai, Sandara menelponku.” Ujarku. “Why always that bitch!” gerutu Kiko sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Yeoboseyo?” ujarku memulai pembicaraan.

“Jiyoung-ssi! Jal jinesseoyo?” tanyanya bersemangat.

“Baik. Bagaimana denganmu?”

“Ah, syukurlah. Nado.” Jawabnya ceria.

“Ada apa menelponku?” tanyaku. Sebenarnya aku sedikit malas.

“Mwo? Kau tak merindukanku?” tanyanya. Dari nada bicaranya tampaknya ia kecewa.

“Ah, ani, tentu saja aku merindukanmu.” Bantahku. Ada perasaan bersalah di hati kecilku.

“Kau pasti telah menemukan yeoja yang lebih baik dariku, ya?” tanyanya polos. Ya, maafkan aku. Batinku.

”Aniyo, kau ini jangan berpikir yang tidak-tidak!” elakku.

“Bukankah yeoja Jepang cantik-cantik?” godanya.

“Haha. Ani, kurasa di dunia ini hanya kau yang terlihat cantik.” Rayuku. Aku berdusta. Kini aku sedang bersama wanita Jepang, tentu saja cantik. Dia seorang model. Dan rasanya aku melupakan janjiku pada Sandara. Rasanya keyakinanku bahwa aku tak akan menyakiti Sandara telah punah.

“Ah. Kau selalu begitu!” jawabnya tersipu.

“Sudah dulu ya, Dara-ssi. Aku sedang sibuk. Mungkin besok aku akan menelponmu lagi.” Dustaku lagi. Tidak, aku tidak berdusta. Aku memang sibuk, sibuk dengan wanita lain. Maafkan aku, Sandara.

“Ah, Ne. Saranghae!”

“Nado saranghae!” aku memutus sambungan. Ku matikan handphoneku dan menyimpannya di laci. “Basa-basi lagi?” tanya Kiko. Tampaknya ia bosan melihatku tetap bersama Sandara. Aku hanya tersenyum kecut. Pikiranku kacau. Di sisi lain aku mencintai Sandara, tapi di sisi lain aku mulai merasa bosan dengannya.

***

Aku kembali ke Korea. Namun aku membawa Kiko. Aku menyembunyikannya di salah satu hotel. Sebenarnya Kiko sedikit keberatan karena harus terus diam-diam menjalani hubungan denganku. Sandara mengetahui kedatanganku ke Korea, tanpa Kiko tentunya. Sehingga mau tak mau aku harus mampir ke rumahnya.

“Jiyoung-ssi!” sambutnya gembira lalu memelukku. Aku balas memeluknya. “Senang bertemu denganmu.” Aku mengecup lembut rambutnya. “Kau semakin tinggi, Jiyuong-ssi!” tangannya berusaha mencapai ujung kepalaku. “Kau yang semakin pendek!” ledekku.

Dia mengerucutkan ujung bibirnya. Membuat wajahnya yang imut tersebut menjadi tampak aegyo. Benar, usianya jauh lebih tua dari Kiko, tapi Kiko jauh lebih dewasa dari Sandara. Aku masih tak percaya bahwa Sandara adalah anak sulung.

“Berapa lama di Korea?” tanyanya sambil menggandengku masuk.

“Sekitar 3 hari. Aku sengaja menyempatkan waktu liburku untuk menemuimu.” Jawabku. Memang, sebenarnya itu tujuanku. Tapi Kiko yang memaksa ikut ke Korea. Apa boleh buat.

“Secepat itu?” Ia duduk di sebuah sofa. Aku mengikutinya.

“Ne, banyak sekali pekerjaanku di sana.” Jawabku.

“Bolehkah aku ikut denganmu ke Jepang? Aku ingin bertemu dengan temanku di sana.” pintanya. Aku sedikit kebingungan. Aku tak menjawab, tak tahu harus mengatakan apa padanya.

“Tenang saja, aku tak akan mengganggu pekerjaanmu.” Ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Bagaimana ini? Bagaimana dengan Kiko?

“Kenapa melamun terus?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.

“Ah, mianhae, banyaknya pekerjaan membuat konsentrasiku sedikit rusak.” Dustaku. Ah, banyaknya wanita, lebih tepatnya. Tidak, tidak banyak. Hanya dua. *Ih si GD playboy banget gitu sih*

“Aku bisa mengertimu.” Sandara mengangguk pelan. Aku merasakan diriku telah berubah. Mungkin Sandara yang lebih merasakan perubahan diriku. *Power Ranger kali yak |Reader: BERISIK LU THOR!*

***

“Kiko-san. Sepertinya besok kau harus pulang sendiri.” Ujarku sambil membereskan pakaian ke dalam koper. Kiko menatapku terkejut. “Aku mengikutimu ke sini bukan untuk ditelantarkan seperti ini!” keluhnya. “Maaf, tapi Sandara minta untuk ikut ke Jepang.” Aku membelai rambut pendeknya. Raut wajah Kiko tampak kesal. “Baiklah, aku mengerti!” ucap Kiko sambil menutup kopernya.

“Aku telah membelikan satu tiket untukmu. Kita satu pesawat, hanya saja tempat duduk kita sedikit jauh.” Jelasku. Kiko mengangguk dengan wajah yang masih kesal. “Jangan marah begitu.” Rayuku sambil memeluknya. Ia tersenyum. “Aku tidak marah” bisiknya.

***

“Aku ke toilet sebentar!” ujar Sandara sambil berlari ke toilet. Aku sedikit khawatir. Sebentar lagi pesawat akan mendarat. Ah, ya sudahlah. Aku duduk menanti Sandara. Sudah 5 menit belum datang juga.

Tiba-tiba Kiko menghampiriku. “Kiko-san, apa yang kau lakukan?” tanyaku terkejut. “Tidak boleh? Aku kan juga kekasihmu.” Kiko memelukku. “Bukan begitu, tapi ada Sandara.” Aku melepas pelukan. “Kau takut padanya? Kau masih mencintainya? Jangan pergi bersamanya, kumohon.”

Brak! Terdengar suara barang jatuh. Aku melihat sebuah koper berwarna merah muda tergeletak di lantai, dan seorang yeoja  sedang berlari menjauhiku. “Sandara!” aku meneriakkan namanya dan berlari mengejarnya. Dengan malas Kiko pun mengikutiku.

***

Sejak hari itu, tak ada lagi kabar dari Sandara. Aku berusaha menelpon dan mengirim pesan padanya. Tapi tak kunjung ada balasan. Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku menyesal telah merusak kepercayaannya. Aku menyesal telah menghancurkan kesetiaanku sendiri.

Kini Kiko pun mulai menjauhiku. Ia telah menemukan namja yang lebih baik dariku. Semuanya menjauhiku. Andai saja aku bisa mengulang kembali waktu. Aku tak akan membiarkan Kiko masuk ke dalam hidupku. Aku tak akan menyakiti Sandara.

Entah mengapa ini sangat membuatku sakit. Sebuah perpisahan tanpa perkataan apapun. Andai saja ia memakiku, aku pasti akan merasa lebih baik. Tapi ini… aku ingin mengulang waktu. Aku menatap langit yang mendung.

“Aku bisa membantumu.” Ujar seorang yeoja di belakangku. Aku menoleh ke arah sumber suara. “Kau… siapa?” tanyaku sedikit takut. “Tak usah banyak tanya, aku benar-benar bisa membantumu.”

“Membantu untuk apa?” tanyaku curiga. “Mengulang waktu.” Jawabnya tenang. “Mwo? Benarkah?” aku terkejut. “Ne, kau mau?” ia menawarkan diri. “Baiklah, bisa dicoba. Tapi jika kau bohong, ku bunuh kau!” ancamku.

“Aku tak akan berbohong. Hanya saja…” ia menggantung kalimatnya. “Hanya saja apa?” tanyaku tak sabar. “Kau tak bisa kembali pada takdirmu ini. Apapun yang terjadi.” Jelasnya. Aku mengangguk mantap. “Kau yakin?” tanyanya lagi. “Ya, aku yakin!” jawabku tegas. Demi Sandara. Demi mendapatkan yeoja itu kembali.

“Ini.” Ia menyodorkan sebuah benda. Mirip seperti stopwatch dengan tali di atasnya. “Kalungkan di lehermu.” Aku menurut saja. “Di sini tertera tanggal. Kau tekan tombol ini, maka tanggal ini akan mundur, bersama dengan waktu yang kau alami. Dan kau tekan tombol ini, untuk memberhentikannya.” Ia menunjuk dua buah tombol secara bergantian.

“Tapi hati-hati, kau akan sedikit pusing dan mual nantinya!” ia tersenyum kecil. Aku memejamkan mata dan menarik nafas berat. Menyiapkan diri. Kemudian membuka mata dan menekan tombol mundur.

Kemudian rasanya dunia berputar. Ada Sandara yang sedang berlari menjauhiku. Kemudian Kiko yang memelukku erat. Senyuman polos Sandara. Kemudian di dalam pesawat perjalanan menuju Korea. Setelah itu hanya ada Kiko dan Kiko. Hanya satu yang menarik perhatianku, saat aku dan Kiko mulai menjalani hubungan kami. Aku menekan tombol ‘stop’. Dan alat itu hilang begitu saja. Aku memandang tanganku yang kosong.

“Jiyoung-san,” panggil Kiko pelan. “Ya?” jawabku. “Kita sudah lama bersama-sama seperti ini tapi belum pernah ada perubahan.” Saat itu Kiko memang mengatakan ini. “Lalu?” tanyaku. “Bagaimana jika kita lanjutkan hubungan kita?”

‘Baiklah, apa salahnya mencoba? Lagipula kita sudah saling mencintai kan?’ begitu jawabanku saat itu. “Maaf, tapi aku telah mempunyai kekasih di Korea.” Tolakku. Aku tak akan mengulang kesalahanku. “Tapi dia berada di Korea. Dia jauh darimu. Dan dia tak memberikanmu kebahagiaan.” Bujuk Kiko.

“Tidak, Kiko-san. Aku tak ingin menghancurkan kepercayaannya. Aku tahu dia pasti menungguku di sana. Aku tak ingin penantiannya itu sia-sia.” Jelasku. Kiko terdiam. “Maafkan aku.” Ucapku. Namun Kiko justru pergi dan meninggalkanku.

***

Hari yang kunantikan telah tiba. Saatnya bertemu dengan yeojachinguku tercinta! Aku tak sabar untuk tiba di Korea. Pramugari memberitahukan bahwa pesawat akan mendarat. Aku bahagia sekali. Sangat tak sabar menemui yeoja manja itu.

Aku turun dari pesawat dan berjalan menuju ruang tunggu. Aku yakin, Sandara telah menungguku di sana. Ya, tentu saja dulu aku memintanya untuk tidak menjemputku di Airport.

“Jiyoung-ssi!” sambutnya gembira lalu memelukku. Aku balas memeluknya. “Senang bertemu denganmu.” Aku mengecup lembut rambutnya. “Kau semakin tinggi, Jiyuong-ssi!” tangannya berusaha mencapai ujung kepalaku.

“Kau yang semakin pendek!” ledekku. Dia mengerucutkan ujung bibirnya. Ini sama persis seperti yang terjadi di rumah Sandara.

 “Berapa lama di Korea?” tanyanya sambil menggandengku menuju tempat parkir. Ah, rasanya benar-benar sama.

“Sekitar 3 hari. Aku sengaja menyempatkan waktu liburku untuk menemuimu.” Jawabku.

“Secepat itu?” Ia masuk ke dalam mobil. Aku mengikutinya.

“Ne, banyak sekali pekerjaanku di sana.” Jawabku.

“Bolehkah aku ikut denganmu ke Jepang? Aku ingin bertemu dengan temanku di sana.” Pintanya.

“Tentu saja, kenapa tidak?” jawabku bersemangat.

“Tenang saja, aku tak akan mengganggu pekerjaanmu.” Ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Ini sangat persis dengan kejadian waktu itu. Ah apapun kejadiannya, aku tidak akan mengulang kesalahanku. Aku akan terus menjaga Sandara. Aku tak akan menyia-nyiakan orang yang kusayangi.

“Kenapa melamun terus?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.

“Ah, mianhae, banyaknya pekerjaan membuat konsentrasiku sedikit rusak.” Dustaku.

“Aku bisa mengertimu.” Sandara mengangguk pelan.

***

“Aku ke toilet sebentar!” ujar Sandara sambil berlari ke toilet. Aku sedikit khawatir. Sebentar lagi pesawat akan mendarat. Ah, ya sudahlah. Aku duduk menanti Sandara. Sudah 5 menit belum datang juga.

Tiba-tiba Kiko menghampiriku. “Kiko-san, apa yang kau lakukan?” tanyaku terkejut. Lebih terkejut. Bagaimana bisa Kiko di sini? Kami sudah tak mempunyai hubungan apapun, bahkan belum pernah memulai hubungan apapun. “Tak usah terkejut begitu!” Kiko membawaku pergi entah kemana. “Aku harus kembali ke Jepang.” Ujarku.

“Jangan pergi bersamanya, kumohon.” Pinta Kiko. Aku menoleh ke arah sekitar. Tidak ada Sandara yang berlari menjauhiku. “Tapi aku harus.” Ujarku. “Aku mencintaimu, Jiyoung-san!” Kiko memelukku. aku segera melepas pelukannya. Mataku tak hentinya memperhatikan sekitar.

Aku mendengar pengumuman bahwa pesawat yang akan kutumpangi sudah mendarat. “Kiko-san, biarkan aku pergi.” Kiko justru memelukku erat. “Kiko-san” aku melepas pelukan. “Aku tak akan membiarkanmu terus bersamanya.” Bisiknya. Aku membalik badanku hendak berlalu. Namun Kiko menarikku kembali.

“Apa yang kau inginkan?” bentakku. “Aku ingin kita bersama, aku menginginkanmu!” ujar Kiko. “Aku tak bisa.” Aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya.

Kemudian aku mendengar pengumuman bahwa pesawat telah berangkat. Aku terduduk lemas di kursi dekat situ. Aku mencari handphoneku di kantong. Sandara berkali-kali menelponku. Dan ada satu pesan. “Jiyoung-ssi. Kau dimana? Pesawat akan berangkat. Aku berangkat lebih dulu, ya. Tak enak rasanya, aku terlanjur berjanji ketika tiba disana aku akan langsung menemuinya. Kau menyusul. Arasseo?” aku membanting handphoneku. Dan menatap Kiko dengan penuh amarah.

Akhirnya aku menyusul dengan pesawat selanjutnya, dengan Kiko tentunya. “Jiyoung-san, senang melihatmu tak bersama Sandara. Dia aneh ya, meninggalkanmu begitu saja.” Ujarnya sambil tertawa seolah itu adalah lelucon. Saat itu dia memang mengatakan ini ketika di pesawat. Saat Sandara memutuskan untuk benar-benar pergi dari hidupku.

“Dia meninggalkanku karena ada keperluan dengan temannya.” Jelasku datar.

“Atau karena sudah tak mencintaimu lagi?”

Aku menatapnya dingin. “Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Kiko. “Aku membencimu!” bisikku. Kiko membelalakkan matanya karena terkejut. “Maksudmu apa? Aku tak mengerti.” Ucapnya agak terbata. “Kau hanya bisa mengerti dirimu sendiri.” Jawabku dingin. Kemudian suasana yang tercipta menjadi beku. Tak ada suara. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

***

Sekarang sudah malam. Sudah daritadi aku sampai di Jepang dan menunggu kabar dari Sandara. Namun ia belum menghubungiku. Aku mencoba menelponnya. Tidak aktif. Ah, apa-apaan ini! Tiba-tiba aku teringat Akira, teman Sandara yang ingin dia temui. Sandara pernah bercerita dimana tempat tinggal Akira berada. Aku melajukan mobilku ke daerah itu.

Bertanya sana-sini dimana apartemen itu. Setelah menemukan sebuah apartemen kecil, yang lebih mirip seperti rumah kuno Jepang, aku mencoba masuk.  “Permisi, apakah disini ada yang bernama Akira?” tanyaku pada penjaganya, atau mungkin pemiliknya, ah molla! “Ya, ada di lantai 2 nomor 21.” Jawabnya. Aku tersenyum. Kemudian aku segera menuju kamar itu.

Ku ketuk pintunya. “Siapa?” ia melihat dari interkom. “Aku… Jiyoung.” Aku bingung bagaimana menjelaskannya, karena dia tak mengenalku. “Jiyoung?” tanyanya bingung.  “Pacarnya Sandara.” Jawabku akhirnya. Ia membuka pintu.

“Apakah Sandara sedang bersamamu?” tanyaku dalam bahasa Jepang yang acak-acakan. “Ani, bicaralah dengan bahasa Korea saja. Aku tahu kau kesulitan.” Ujarnya dalam bahasa Korea. Aku tersenyum.

“Apakah Sandara sedang bersamamu?” kini menggunakan bahasa Korea dengan lancar. “Ani, sejak pagi ia tak ada kabar. Ku pikir ia membatalkannya.” Jawabnya. Aku mulai cemas. “Jeongmal?” tanyaku tak yakin. Ia mengangguk lemah. Kami sama-sama terdiam.

“Jiyoung-ssi, memangnya dia tidak berangkat denganmu?” tanyanya. “Ani, aku ketinggalan pesawat dan dia berangkat lebih dulu.” Jawabku. “Jangan-jangan… ah! Lupakan! Doakan saja semoga tak terjadi apa-apa.”

“Jangan-jangan apa?” aku mengguncang tubuh Akira. “Aku tadi melihat di televisi ada berita kecelakaan pesawat. Mungkinkah…” aku tak bisa mendengar apapun lagi. Aku merasa putus asa. “Arrgghh!” aku berlari keluar tanpa mengucapkan terimakasih. Pikiranku benar-benar sedang kacau. Aku segera mengendarai mobilku menuju bandara.

Aku menanyakan tentang pesawat yang ditumpangi Sandara kepada pusat informasi. “siapa nama keluarga anda, tuan?” tanyanya. “Park Sandara.” Jawabku cemas. “Baik, jika nanti nona Park ditemukan, maka kami akan menghubungi anda. Mohon tulis nomor telpon dan alamat yang bisa dihubungi.” Ia menyerahkan selembar kertas dan bolpoin padaku.

***

Sudah seminggu, namun belum ada kabar. Aku terus menerus di depan televisi dan meninggalkan pekerjaanku demi menantikan kabar korban yang ditemukan. Namun hasilnya nihil. Aku menangis. Seumur hidup aku belum pernah menangisi wanita.

Aku menyesali segalanya. Benar, hidup adalah pilihan. Aku memang harus memilih Sandara membenciku, atau meninggalkanku untuk selamanya. Dan inilah yang kupilih. Sandara meninggalkanku untuk selamanya. Padahal lebih baik jika Sandara menghilang dari hidupku dalam keadaan membenciku tetapi ia tetap selamat.

Baiklah, ini memang pilihanku. Aku yang memilih untuk memutar waktu. Aku tak boleh menyesali apapun kini. Aku tahu tuhan telah memberikan yang terbaik. Semua yang kita alami ini patut disyukuri. Aku tak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Telponku berdering. Sandara? “Y-yeoboseyo?” sapaku takut. “Yak! Maaf, Jiyoung, aku belum sempat mengabarimu! Kemarin tasku hilang entah kemana. Dompet dan handphoneku hilang, sehingga tak bisa mnghubungimu. Dan aku tidak jadi naik pesawat karena tiketnya juga hilang. Sekarang nomorku baru saja diaktifkan. Maaf membuatmu cemas terlalu lama karena adanya kabar pesawat itu.” Celotehnya. Aku tersenyum lega. Dan aku masih merasa sangat terkejut. “Yeoboseyo? Jiyoung-ssi? Kau masih disitu?”

Aku terlalu senang. Bahkan tak bisa mengatakan apapun. Aku kembali mendengar suaranya. Aku bisa mendengarnya! Apakah aku bermimpi? Ah, benar. Ini pilihanku. Pilihan yang tepat. “Yak! Jiyoung-ssi! Apakah kau menjadi bisu?” tanyanya. Aku tertawa. “Aku tidak bisa mengatakan apapun.” Jawabku. “Hahaha! Pabo!” ledeknya. Ini untuk pertama kalinya selama kami berpacaran, aku sangat bahagia mendengar suara yeoja itu. Rasanya sesuatu yang berharga telah hilang dan kembali lagi.